Apakah dari kita ada yang bertanya tentang Hari Raya Sabuh Mas? atau ada yang tahu dengan hari tersebut? Mungkin ada yang tidak tahu, atau tidak tahu tetapi terkena penyakit mental tidak mau tahu? Ya, Hari Sabuh Mas yang jatuh pada Selasa Wage wuku Sinta adalah tiga hari pascaperayaan Saraswati yang sering kali dilewatkan begitu saja sebagai ritual kalender Bali yang sunyi dari gegap gempita. Padahal, jika kita menelisik makna di balik namanya, sabuh berarti ikat pinggang dan mas menyimbolkan kemurnian serta nilai luhur, hari suci ini menyimpan filosofi paling fundamental tentang pengendalian diri. Di tengah Pulau Bali yang hari ini megap-megap menghadapi krisis ekologis, gempuran tumpukan sampah plastik di pesisir, ancaman krisis energi, hingga alih fungsi lahan yang tak terkendali, Sabuh Mas hadir sebagai teguran batin yang keras. Pertanyaannya: sudahkah “ikat pinggang” pengendalian diri itu kita kencangkan, atau kita biarkan lepas sementara alam Bali perlahan-lahan runtuh di hadapan kita?
Krisis yang melanda Bali hari ini bukanlah musibah yang datang dari langit tanpa sebab, melainkan buah dari awidya modern, ketidaktahuan yang dipelihara atau sikap masa bodoh yang akut dari kita sendiri. Selama ini, generasi muda dan masyarakat luas kerap terjebak dalam posisi nyaman sebagai penonton yang hobi mengeluh, menuding para pejabat gagal, atau menyalahkan kebijakan pemerintah yang lambat, sementara tangan kita sendiri masih akrab dengan botol plastik sekali pakai dan gaya hidup konsumtif boros energi. Kita marah pada kerusakan alam, tetapi kita lupa bahwa setiap kali kita habis mengendarai motor, makan nasi yang terbungkus, membuang sampah sembarangan atau menyalakan listrik tanpa batasan dengan scroll layar gadget, kita sedang ikut menyumbang bara pada krisis iklim global. Sabuh Mas menuntut sebuah kesadaran radikal: bahwa perubahan tidak akan pernah lahir dari amarah yang mandek, melainkan dari disiplin diri yang dimulai dari individu.
Memaknai Sabuh Mas di era krisis energi berarti melatih diri untuk mengerem nafsu konsumtif yang rakus. Sebagian besar pasokan energi kita masih bergantung pada bahan bakar fosil yang mencemari udara dan mempercepat pemanasan global. Ketika seorang pelajar membiarkan lampu kelas menyala tanpa guna, kipas berputar tanpa henti, atau memilih berkendara pribadi untuk jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, ia sedang merobek “ikat pinggang” kebijaksanaannya sendiri. Energi bukanlah komoditas tak terbatas yang bisa dieksploitasi sesuka hati; ia adalah kekayaan murni (mas) yang menuntut pertanggungjawaban ekologis. Pengendalian diri ala Sabuh Mas mengajarkan kita untuk menjadi penjaga energi, bukan pemboros yang mempercepat kepunahan sumber daya alam Bali.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menggeser paradigma dari sekadar mengeluh di media sosial menuju aksi nyata yang terukur di lingkungan terdekat. Langkah pertama yang paling esensial adalah menegakkan disiplin ruang kelas dan sekolah yang bebas dari plastik sekali pakai. Siswa harus mulai terbiasa membawa tumbler dan wadah makan sendiri, menolak segala bentuk kemasan plastik sekali pakai di kantin sekolah, serta menginisiasi piket pengelolaan sampah mandiri di setiap kelas. Jangan menunggu peraturan gubernur atau sanksi dari pihak berwenang untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik; mulailah dari meja belajar kita sendiri, karena kebiasaan kecil yang dipraktikkan secara masif adalah tetesan air yang kelak melubangi karang raksasa. Kita sudah memulai ini kan? Maka selanjutnya adalah konsisten dan bertahan. Dan inilah tantangan yang sebenarnya!
Langkah nyata kedua berkaitan langsung dengan penyelamatan krisis energi di lingkungan sekolah maupun rumah tangga. Jadilah “polisi energi” yang proaktif dengan membiasakan diri mematikan seluruh perangkat elektronik, pendingin ruangan, dan lampu segera setelah penggunaannya selesai. Manfaatkan pencahayaan dan sirkulasi udara alami di siang hari dengan membuka jendela kelas, alih-alih bergantung penuh pada daya listrik buatan. Di samping itu, dorong budaya mobilitas ramah lingkungan, seperti bersepeda bersama, berjalan kaki untuk jarak dekat, atau menerapkan sistem carpooling (berbagi kendaraan) bersama teman searah untuk memangkas emisi karbon kendaraan bermotor secara signifikan. Adakah dari kita yang mau menjadi “polisi energi” ini? Kemungkinan dicemooh oleh teman-teman di kelas sangat tinggi, maukah kamu merubah mental teman-teman yang seperti itu?
Langkah ketiga yang tak kalah krusial adalah membangun ketahanan mental dan kepedulian sosial yang menolak segala bentuk apatisme. Polusi di Bali bukan sekadar tumpukan sampah fisik di pantai, melainkan juga “polusi moral” berupa matinya empati antarsesama dan hilangnya rasa memiliki terhadap tanah leluhur. Sabuh Mas adalah filter etika yang mengikat karakter kita agar tetap luhur. Siswa harus berani melawan perundungan (bullying), aktif membantu teman yang kesulitan, serta ikut serta dalam komunitas pelestarian budaya dan lingkungan di desa adat masing-masing. Ingatlah selalu konsep Tat Tvam Asi, bahwa alam Bali dan sesama manusia adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita sendiri; merusak alam sama artinya dengan mengikis harkat martabat kita sebagai manusia Bali.
Pada akhirnya, Hari Raya Sabuh Mas bukan sekadar upacara persembahan di sanggah, merajan atau pura yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Ia adalah garis start spiritual yang menagih nyali dan komitmen kita untuk menyelamatkan Bali dari ambang kehancuran ekologis. Jika para leluhur kita di masa lalu mampu merawat keseimbangan alam Bali dengan penuh ketaatan dan kesadaran, maka sudah sepatutnya generasi muda hari ini membuktikan bahwa darah yang mengalir di nadi kita bukanlah darah para pengecut yang apatis, melainkan darah para penjaga bumi yang solutif dan tangguh.
Maka, setelah membaca ini, mari tanyakan kembali pada diri sendiri di hadapan cermin kesadaran: masihkah kita akan berpangku tangan dan menjadi penonton atas robohnya tanah kelahiran kita, ataukah kita akan mulai mengikat pinggang kesadaran, merapatkan barisan, dan melakukan aksi nyata mulai hari esok? Pilihan ada di tanganmu, sebelum Bali yang kita cintai hanya tinggal nama dalam buku sejarah.

