Buih-buih putih berkejaran, mencium pasir hitam abu Pantai Masceti yang masih basah oleh ombak dan embun pagi. Mentari baru saja merangkak naik, mengoreskan warna jingga lembut di ufuk timur. Ribuan umat bersembahyang dan melukat, membasuh raga dengan air kumkuman beraroma harum kamboja dan mawar. Hari itu adalah Minggu Paing wuku Sinta, hari di mana tradisi Banyu Pinaruh tumpah ruah merayakan kesucian setelah Hari Raya Saraswati.
Namun, di sudut bibir pantai yang agak lengang dari kerumunan, suasana justru sedang memanas.
“Dih, males banget gue ikut-ikutan acara kayak gini kalau ujung-ujungnya cuma jadi konten story doang buat cap sok peduli lingkungan,” sungut Oky sambil melipat tangan di dada. Ia mengenakan kaus longgar, kacamata hitam disematkan di atas kepala, dan wajahnya menyiratkan kebosanan tingkat dewa.
Oky adalah tipe siswi yang terkenal paling masa bodoh di kelas. Dunia baginya terbagi menjadi dua: hal yang tidak penting dan sangat tidak penting.
Safira dan Ria, dua sahabatnya yang berdiri di sampingnya, hanya bisa menghela napas panjang. Mereka sudah hapus dengan tabiat Oky yang hobi cynical atau sinis terhadap apa pun.
“Bukan masalah konten, Ky. Ini kan tradisi, bentuk syukur kita abis Saraswati,” bela Kirana, siswi teladan yang hobi baca buku dan paling vokal kalau ngomongin isu sosial-lingkungan. Matanya menatap tajam ke arah Oky. “Lagian, kita kan generasi muda. Harus punya kepedulian. Lihat tuh pantai penuh sampah plastik. Pemerintah aja pada diam, pejabat kerjanya cuma omon-omon doang pas kampanye, tapi pas udah duduk di kursi empuk, solusinya nol besar!”
Oky mendengus keras, tawanya sinis. “Nah! Makanya itu, Kirana yang budiman! Buat apa kita repot-repot mulung sampah botol atau sok-sokan peduli krisis iklim? Emangnya sumbangsih kita bakal bikin para pejabat itu turun tangan? Mereka itu sibuk bagi-bagi proyek, sementara kita disuruh jadi relawan gratisan buat nutupin bobroknya kinerja mereka. Buang-buang waktu! Mending kita ngopi atau rebahan di rumah.”
“Eh, Oky! Pemikiran lo itu egois banget!” Kirana mulai tersulut emosi, telunjuknya menuding tepat ke muka Oky. “Kalau semua orang mikir kayak lo, bumi ini udah hancur lebur dari kemarin! Perubahan itu dimulai dari kesadaran kita sendiri, bukan nunggu pejabat sadar!”
“Halah, basi!” Oky memutar bola matanya malas. “Sadar, sadar, tapi kenyataannya pantai ini tetap kotor, kebijakan lingkungan tetap amburadul. Nggak usah naif jadi orang, Kir!”
Perdebatan dua gadis itu semakin sengit. Ria dan Safira sudah bersiap melerai karena suara Kirana mulai meninggi, menyaingi deru ombak pantai.
“Wih, wih, wih! Bentar, ini adu argumen apa mau lomba yel-yel antarkelas? Suara kalian berdua sukses bikin ikan-ikan di laut migrasi dini, tahu!”
Sebuah suara nyaring, segar, dan penuh energi memecah ketegangan di antara mereka.
Keempat siswi itu sontak menoleh. Di hadapan mereka, berdiri seorang wanita muda berbusana adat madya yang stylish dengan selendang lilit warna cerah. Rambutnya yang sebahu tampak basah kuyup usai melukat, tapi senyum lebarnya langsung menerangi suasana pagi itu. Di tangannya, ia membawa mangkuk kecil berisi tirta dan sisa bunga harum.
Itu adalah Bu Oka, guru Agama Hindu dan Budi Pekerti mereka. Di sekolah, Bu Oka terkenal sebagai guru muda yang gaul, energik, hobi podcast pendidikan, dan punya selera humor setinggi langit yang bikin murid-murid tidak pernah berani ketiduran di kelasnya.
Wajah Oky langsung pucat pasi. “Bu… Bu Oka?” cicitnya, spontan menurunkan tangan yang tadi bersidekap. Safira dan Ria langsung mengambil sikap hormat, sementara Kirana menunduk takzim dengan senyum tertahan.
Bu Oka melangkah mendekat dengan gestur lincah, lalu tanpa aba-aba mencipratkan tirta segar tepat ke muka Oky dan Kirana.
“Biar adem! Kepala panas di hari suci itu pamali, nanti cantiknya luntur, lho!” kata Bu Oka sambil tertawa renyah.
“Maaf, Bu. Kami tadi lagi… itu, Bu, diskusi soal…” Kirana mencoba menjelaskan dengan gugup.
“Diskusi atau mau audisi debat pilpres?” potong Bu Oka santai. Ia langsung duduk selonjoran begitu saja di atas pasir hitam pantai tanpa canggung. Ia menepuk pasir di sebelah kirinya, mengisyaratkan keempat siswi itu untuk ikut duduk.
“Tadi saya denger dari jarak dua meter, Oky ngomel-ngomel soal pejabat, terus Kirana ngegas mau nembak tembok pakai logika,” lanjut Bu Oka sambil tersenyum jenaka, matanya berbinar menatap Oky. “Neng Oky yang manis, coba ulangi ke Ibu: kenapa kamu sewot banget sama dunia sampai-sampai mau jadi kaum rebahan permanen?”
Oky menelan ludah, salah tingkah di hadapan guru favoritnya itu. “Emm… ya habisnya gerah, Bu. Pemerintah atau pejabat sekarang kan kerjanya cuma pencitraan doang, solusinya gak ada. Buat apa kita capek-capek peduli lingkungan kalau akarnya ada di sistem yang bobrok? Kenapa rakyat kecil kayak kita yang harus nanggung beban?”
Alih-alih marah atau menceramahinya dengan nada kaku, Bu Oka justru terbahak. Ia menepuk pahanya sendiri.
“Nah, itu dia! Analisis kritismu tajam banget, Ky. Mirip pengamat politik di tipi-tipi. Tapi logikamu itu rada unik: kayak orang kesel karena rumahnya bocor, terus kamu malah milih tidur di kubangan lumpur biar adil sama hujan!”
Safira dan Ria langsung tertawa ngakak, sementara Kirana menutup mulutnya menahan senyum. Oky merengut, pipinya merona merah karena malu.
“Dengar ya, anak-anak muda,” Bu Oka mengubah nada bicaranya menjadi sedikit serius namun tetap hangat. Ia menunjuk hamparan laut lepas. “Pejabat korup, birokrasi lambat, atau berita politik yang bikin sakit kepala itu memang realita di luar kendali kita sekarang. Tapi kalau kamu milih masa bodoh karena kecewa sama mereka, yang rugi siapa? Pejabatnya tetap bisa tidur nyenyak di ruang ber-AC, sementara kamu dan anak cucu kamu nanti yang megap-megap hidup di bumi yang penuh sampah.”
Oky terdiam, skakmat.
“Dalam filosofi Banyu Pinaruh, air itu melambangkan pinaruh, kesadaran,” lanjut Bu Oka sambil mengambil sehelai kelopak bunga mawar dari mangkuknya, lalu dengan usil menyelipkannya di atas telinga Oky. “Air gak pernah protes kenapa batu karang di depannya keras banget. Air juga gak nunggu batu karang itu kirim surat izin buat dilubangi. Air mengalir terus, konsisten, sabar, tapi gigih menembus celah sekecil apa pun.”
Bu Oka menatap mata Oky lekat-lekat, menyalurkan energi positif yang menular. “Marah sama keadaan itu wajar sebagai manusia, Oky. Tapi kalau kemarahan itu kamu jadikan alibi buat jadi pemalas yang apatis, itu namanya kamu sedang menghukum masa depanmu sendiri. Sebagai pelajar Hindu yang belajar Budi Pekerti, bukankah kita diajarin buat jadi agen kebaikan dari hal terkecil?”
“Terus… kita harus gimana, Bu? Emangnya suara siswa SMK kayak kita didengar?” tanya Oky pelan, nada sinisnya meleleh berganti rasa penasaran yang jujur.
Bu Oka berdiri sambil membersihkan pasir di celananya dengan sigap. Ia menunjuk tumpukan botol plastik air mineral kemasan yang berserakan tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Siapa bilang gak didengar? Kamu gak usah muluk-muluk mau demo bawa spanduk ke kantor gubernur hari ini. Pejabat gak akan turun tangan buat mungut satu botol plastik di Padang Galak ini. Tapi kalau Oky yang tadinya cuek dan Kirana yang idealis mau kompak kerja sama, misalnya bikin aturan tegas di kelas dilarang bawa plastik sekali pakai, atau bikin aksi bersih-bersih rutin. itu jauh lebih keren daripada seribu status galau di media sosial!”
Kirana tersenyum lebar, lalu menyenggol lengan Oky. “Tuh, dengar kata Bu Guru!”
Oky menggaruk tengkuknya. Ia menatap botol plastik di dekat kakinya, lalu melirik Bu Oka yang berdiri dengan tangan berkacak pinggang sambil tersenyum penuh tantangan. Ada sebersit rasa bersalah di hatinya, namun juga ada percikan api semangat yang mulai menyala.
“Jadi… sikap cuek saya selama ini sebenarnya cuma jurus ampuh buat nutupin rasa malas ya, Bu?” tanya Oky jujur, membuat teman-temannya tertawa.
Bu Oka tertawa lepas sambil merangkul pundak Oky erat-erat. “BINGO! Pintar sekali anak didikan Ibu ini. Makanya, habis ini jangan cuman numpang basah di pantai buat bikin konten IG, tapi basahin juga mentalmu dari virus masa bodoh!”
Wanita muda itu kemudian mengangkat mangkuk tirta-nya tinggi-tinggi dengan gaya kocak ala presenter TV.
“Sudah, ayo bubar jalan! Sini cuci muka pakai tirta biar pikiran kalian yang suka nge-judge itu agak adem. Setelah itu, buktikan kalau generasi muda Bali gak cuman jago ndegebat, tapi juga jago beraksi!” seru Bu Oka penuh semangat.
Oky mendengus pelan, tapi kali ini ia tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri. “Yaelah, Bu… niatnya mau healing tenang, malah kena ospek terselubung di pantai,” gerutunya setengah bercanda.
Kirana, Safira, dan Ria langsung tergelak. Kirana menarik tangan Oky. “Udah, yuk! Mumpung otaknya udah disucikan Bu Guru, kita mulai aksinya sekarang!”
Diiringi tawa renyah dan deburan ombak pagi yang menenangkan, keempat siswi itu berjalan berdampingan, membawa kesadaran baru yang mengalir deras, mengikis karat ego dan apatis di dada, menyongsong siklus hidup yang lebih hidup.

