Dalam tradisi Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai alat intelektual, tetapi juga sebagai entitas suci yang menuntun manusia menuju pembebasan. Penghormatan terhadap ilmu ini mencapai puncaknya pada Hari Raya Saraswati sebuah peringatan yang jatuh setiap 210 hari sekali pada Sabtu Saniscara Umanis, Wuku Watugunung.
- Landasan Teologis: Mengapa Memuja Saraswati?
Ida Bhatari Saraswati adalah Dewi simbolis yang mempersonifikasikan sifat-sifat Tuhan sebagai sumber Widya (Pengetahuan). Dalam teks-teks suci, beliau digambarkan sebagai sosok dewi yang cantik, bertangan empat, memegang genitri (tasbih), lontar (kitab), alat musik (veena), dan didampingi oleh burung angsa serta merak.
Setiap atribut tersebut memiliki nilai edukatif:
Lontar/Buku: Melambangkan sumber ilmu pengetahuan yang tak terbatas.
Genitri: Simbol dari proses belajar yang berkelanjutan dan meditasi.
Alat Musik: Mewakili estetika, seni, dan harmoni kehidupan.
Angsa Simbol kebijaksanaan karena kemampuannya memisahkan air dan lumpur, mengajarkan kita untuk memilah mana yang baik dan buruk.
- Ritual dan Etika terhadap Ilmu (Nitya Karma)
Perayaan Saraswati bukan sekadar pesta seremonial, melainkan bentuk edukasi etika dalam memperlakukan sumber ilmu. Pada hari ini, umat Hindu melakukan beberapa rangkaian kegiatan:
Penyucian Pustaka: Semua buku, kitab, dan perangkat teknologi informasi dibersihkan dan disusun rapi untuk didoakan. Ini mengajarkan kita untuk menghargai alat-alat yang membantu kita menjadi pintar.
Larangan Membaca: Uniknya, pada hari Saraswati hingga matahari terbenam, umat dilarang membaca atau menulis. Mengapa? Secara edukatif, ini adalah simbol jeda sejenak untuk merenungkan apa yang telah dipelajari selama ini, bukan sekadar menumpuk informasi tanpa pemahaman.
Persembahyangan Bersama Dilakukan di pusat-pusat pendidikan seperti sekolah dan kampus sebagai bentuk komitmen bersama antara guru dan murid untuk menjaga kemurnian ilmu.
- Korelasi dengan Budaya Literasi Modern
Di era digital saat ini, Hari Raya Saraswati memiliki relevansi yang sangat kuat sebagai pengingat akan pentingnya Literasi. Fenomena disinformasi atau hoax sering terjadi karena manusia kehilangan kemampuan pemilahan yang disimbolkan oleh angsa tadi.
Peringatan ini mengajak masyarakat untuk:
- Menumbuhkan Minat Baca Menjadikan buku dan literatur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
- Pelestarian Warisan Budaya Melalui penghormatan pada naskah lontar, generasi muda diajak untuk mengenal akar sejarah dan kearifan lokal.
- Etika Digital Menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan bijak, santun, dan untuk tujuan kesejahteraan umum Jagadhita
Kesimpulan
Hari Raya Saraswati adalah momentum “Wisuda Alam Semesta” di mana manusia diingatkan bahwa kegelapan pikiran awidya hanya bisa diusir dengan cahaya ilmu pengetahuan. Dengan merayakan Saraswati, kita berkomitmen untuk terus belajar, tetap rendah hati dengan ilmu yang dimiliki, dan menggunakan kebijaksanaan tersebut untuk menerangi kehidupan sesama.
