Elian tidak pernah bisa benar-benar menikmati hening. Baginya, angin bukan sekadar udara yang
lewat, melainkan pembawa pesan. Saat ia berdiri di balkon bengkel awan milik ayahnya, telinganya
menangkap frekuensi yang tidak didengar manusia lain. Di Timur, ia mendengar suara “krak” yang dalam dan memilukan. Itu adalah suara tanah yang merengkah di dasar laut, sebuah guncangan hebat yang meruntuhkan rumah-rumah panggung dipesisir. Elian bisa merasakan getaran itu merambat naik ke telapak kakinya, membuatnya gemetar seolah ia sendiri yang berdiri di atas tanah yang terbelah. Di Barat, pendengarannya dipenuhi oleh suara air yang pekat. Bukan gemericik sungai yang merdu,melainkan deru lumpur yang menghantam batang-batang pohon. Ia mendengar “tangisan” hutan yang tenggelam; suara gesekan dahan-dahan yang menyerah pada arus bah. Setiap kali ia melihat awan hitam di ufuk barat, Elian tahu itu adalah potongan-potongan awan yang compang-camping karena telah habis-habisan memuntahkan air ke bumi. “Lihat ini, Camar, ” bisik Elian sambil memegang sepotong awan kelabu yang kasar di tangannya. Ia menggunakan jarum perak untuk menyatukan kembali serat-serat uap yang sobek. “Awan ini lelah. Ia dipaksa menjadi badai, padahal ia hanya ingin menjadi peneduh”. Burung Camar perak itu hinggap di bahunya, mengeluarkan suara parau yang seolah membenarkankesedihan Elian. Dilema itu memuncak ketika Elian menatap Gunung Merapi di tengah negeri. Ia bisa mendengar “napas” gunung itu—sebuah dengusan panas yang tersumbat di tenggorokan kawah. Baginya, abu vulkanik yang menutupi langit bukan sekadar debu, melainkan sisa-sisa amarah bumi yang tak tertahankan. “Orang-orang di bawah sana sedang menyiapkan gaun sutra dan kembang api,” Elian bergumam, matanya berkaca-kaca menatap pulau-pulau di kejauhan yang tampak remang. “Bagaimana mungkin aku bisa melangkah di atas lantai dansa yang halus, sementara aku tahu di pulau
seberang, tangan-tangan saudaraku sedang menggali reruntuhan dengan kuku yang berdarah?
Bagaimana mungkin aku merayakan waktu yang berputar, jika bagi mereka, waktu seolah berhenti di saat bencana itu datang?” Elian meletakkan alat penambal awannya. Ia merasa seperti seorang dirigen musik yang dipaksa memimpin orkestra ceria di tengah pemakaman. Baginya, setiap letupan kembang api yang mulai dicoba di kejauhan terdengar seperti suara dentuman bangunan yang runtuh—sebuah ironi yang menyayat hatinya tepat di ambang pergantian tahun.

Posted inshort story

Karya yg kaya akan diksi.
Semangat dik Wiwik & team Pena Mas.
Terimakasih Bu.
Bahasa sastranya,gaya bahasa personifikasi ya sangat bagus shg dapat menampilkan semua wujud benda mati ataupun makhluk lain( binatang) seolah hidup dan membangun dan menggambarkan suasana yg sebenarnya. Kecamuk hati seorang insan yg penuh dilema antara menikmati kebahagiaan ataukah meratapi bahana kesulitan orang lain. POKOKNYA OKEYYYY, SEMANGAT WIWIK….
Terimakasih Pak.