Di Bawah Naungan Janur dan Layar Digital

Di Bawah Naungan Janur dan Layar Digital

Udara hangat di laboratorium komputer SMK Negeri 1 Mas Ubud terasa riuh. Gelombang tsunami pikiran setiap siswa pentas di dalam gemuruh ketukan papan ketik dan obrolan antarsiswa bersahut-sahutan dengan riuh spanduk “Pesta Demokrasi Sekolah” yang membentang di dinding. Di pojok ruangan, tiga siswa duduk mengelilingi satu meja kayu. Di atas meja itu membentang draf proposal, gawai yang menyala, dan tumpukan catatan riset.

Manah, siswa semester pertamanya di jurusan kejuruan itu, menarik napas panjang. Matanya menatap tajam layar gawai yang menampilkan draf gagasan besarnya. Manah bukan sekadar siswa yang ingin mencari jabatan, ia tergerak oleh dorongan besar untuk membawa sekolahnya melangkah lebih jauh, layaknya jargon yang selalu digaungkan setiap kesempatan, kompeten-inovatif-siap kerja! Ia memimpikan sebuah sekolah yang maju dan adaptif terhadap zaman tanpa kehilangan akar budaya tempat mereka berpijak. Alasan itulah yang memantapkan langkahnya untuk maju dalam bursa pemilihan Ketua OSIS tahun ini.

“Manah, kalau kita mau menang suara di kawasan pariwisata seperti Ubud, program kerja kita harus spektakuler dan langsung terasa manfaat komersialnya,” ujar Raja, kandidat lain yang duduk di sebelahnya. Raja yang pragmatis dan berorientasi pada hasil cepat menepuk meja dengan percaya diri. “Aku usul kita fokus pada program English for Tourism dan pelatihan Hospitality Service seratus persen. Kita ciptakan lulusan yang siap kerja langsung di resor dan galeri seni. Itu yang dicari pasar saat ini.”

Anom, yang duduk di sebelah kiri Manah sambil memegang pulpen dan buku catatan harian, menggeleng perlahan. Anom adalah tipe siswa yang sangat menjaga nilai-nilai kebudayaan dan konservasi lokal. “Tapi Raja, kalau fokus kita hanya melayani industri pariwisata komersial, di mana letak pelestarian budayanya? Ubud ini hidup dari seni dan kearifan lokal. Kalau siswa hanya diajari cara melayani wisatawan, kita akan kehilangan identitas. Aku lebih setuju jika OSIS membuat projek pelestarian seni tari legong dan workshop pembuatan alat upakara tradisional untuk seluruh siswa.”

Adu argumen mulai memanas. Raja menganggap ide Anom terlalu konvensional dan kurang berdampak pada kesiapan kerja siswa di masa depan, sementara Anom menilai gagasan Raja terlalu kapitalis dan mengesampingkan nilai-nilai tradisi.

Manah memegang dadanya, mengingat kembali ajaran Tri Kaya Parisudha yang selalu ditekankan oleh gurunya: Manacika (berpikir yang bersih), Wacika (berkata yang santun), dan Kayika (berbuat yang bertanggung jawab). Ia tidak boleh terbawa emosi atau ego pribadi hanya demi memenangkan debat. Mengacu pada prinsip Dikotomi Kontrol ala Stoisisme yang ia pelajari, Manah sadar ia tidak bisa mengontrol keras kepala kedua temannya, namun ia memiliki kontrol penuh atas bagaimana ia mengolah kedua pandangan tersebut menjadi solusi yang inklusif.

“Raja, Anom, dengarkan aku sebentar,” sela Manah dengan nada tenang namun tegas. Suaranya menyerap ketegangan di antara mereka.

Kedua temannya menoleh, menunggu gagasan dari Manah.

“Ketakutan Anom itu valid. Jika kita hanya mengejar pariwisata komersial, kita hanya akan jadi penonton di tanah sendiri. Namun, argumentasi Raja juga tepat; siswa butuh keterampilan modern yang relevan agar mampu bersaing,” Manah membuka gawainya dan menunjukkan sebuah bagan konsep yang baru saja ia selesaikan.

“Bagaimana jika projek unggulan OSIS kita bernama ‘Ubud Digital Cultural Hub’?” usul Manah.

Raja dan Anom saling pandang, tertarik dengan istilah tersebut.

“Melalui projek ini, kita memadukan inovasi teknologi dengan kearifan lokal berlandaskan Tri Hita Karana,” lanjut Manah dengan mata berbinar. “Kita tidak hanya melatih siswa dengan bahasa asing dan teknologi digital, tetapi materi yang digarap adalah dokumentasi digital seni tradisi, peta wisata budaya berbasis aplikasi, dan pemasaran produk kerajinan lokal buatan siswa sendiri. Jadi, siswa belajar inovasi digital (modernitas), mendapatkan keterampilan kerja (pariwisata), sekaligus melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Ubud ke tingkat dunia (budaya).”

Ruangan hening sejenak. Anom mengangguk-angguk perlahan, membayangkan bagaimana seni tradisi yang ia cintai bisa dikemas secara modern oleh teman-temannya. Raja menyandarkan punggungnya di kursi, tersenyum tipis mengakui kecerdasan gagasan integratif tersebut.

“Inovasi tanpa kehilangan akar,” gumam Raja. “Pendekatan yang cerdas, Manah. Itu jauh lebih menjual dan berdampak jangka panjang.”

“Dan yang terpenting, ini menjaga keharmonisan antara manusia, budaya, dan lingkungan sekolah kita,” tambah Anom sambil menuliskan judul projek tersebut ke dalam buku catatannya.

Sore itu, di tengah kepungan layar monitor dan tumpukan kertas, Manah belajar satu hal penting tentang kepemimpinan. Sebelum melangkah memimpin ribuan siswa di sekolahnya, ia telah berhasil memimpin dirinya sendiri: menahan ego, mendengar dengan empati, dan menyatukan perbedaan menjadi sebuah karya yang bernilai bagi sekolah dan daerah tercintanya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *